Sudah sering denger yes sejoli pertanyaan dan jawaban itu? Yup..pekerjaan paling eek di dunia ini adalah menunggu. Pun dengan saya, yang tak betah berlama-lama menunggu. Menunggu apapun.
Anehnya, setiap tahun, setiap menjelang kompetisi bergulir tepatnya, saya dipaksa menunggu. Menunggu apa? Menunggu kepastian dari manajemen PSS Sleman. Kepastian apa? Semua hal, pelatih, pembentukan tim, dan target kompetisi.
Saya tidak bisa meratap dengan membenturkan kepala saya ke tembok menghadapi pola pikir manajemen PSS Sleman, yang berisi mayoritas orang-orang yang sudah lama menjadi PNS. Saya tidak berhak menjustifikasi profesi apapun di dunia ini, termasuk PNS, tapi tidak dipungkiri sikap terlalu hati-hati, serba menunggu, tidak berani ambil resiko, dan semua yang berurusan dengan kata lambat lekat dengan profesi PNS.
Saya dengan sok tau mencoba mengupas apa yang menjadi titik lemah manajemen PSS Sleman selama ini.
Sumber masalahnya adalah dana. Dengan dana yang terbatas, atau terlambat datang, membuat PSS selalu dapat pelatih maupun pemain “sisa”. Beruntung pelatih dan pemain yang notabene bukan incaran utama ini selalu bisa menjawab keraguan suporter. “Iki lho aku iso,” seolah mereka ingin menunjukkan bukti.
Di awal 2012 saya sempat mencoba membuka mata manajemen dengan menjual merchandise original PSS Sleman. Sebuah klub tidak akan bisa bertahan mengandalkan sponsor dan uang tiket, itu pikiran saya yang sok tau. Klub butuh pemasukan yang ada atau tiadanya kompetisi/pertandingan uang tetap masuk ke kas klub. Dan jawaban atas hal itu Cuma satu, penjualan merchandise original.
PSS Sleman selalu mengeluarkan anggaran untuk membuat jersey, tetapi manajemen tidak pernah berpikir untuk mengkomersialisasi jersey supaya mereka mendapat pemasukan. Pemikiran saya mungkin mentah di manajemen, mereka masih beranggapan bahwa penjualan merchandise original hanya akan menambah anggaran tanpa pernah berpikir bahwa mereka bisa mendapat keuntungan luar biasa dari penjualan itu.
Saya masih tetap kekeuh dan siap bertarung mempertahankan pemikiran saya bahwa penjualan merchandise original adalah cara terbaik untuk menghidupi klub pada saat jeda kompetisi.
Itu untuk dana, dalam sebulan terakhir kita sedang ngetrend menunggu kepastian siapa pelatih PSS Sleman. Apa boleh buat, manajemen selalu berkilah tidak mau gegabah dan menunggu kepastian format kompetisi dari penyelenggara liga selalu jadi alasan.
Saya akrab dengan dunia marketing, hingga akhirnya berwiraswasta, dan ternyata keberhasilan atau kesuksesan atau apapun Anda menyebutnya, hanya akan menjadi milik orang-orang yang berani mengambil resiko. Saya boleh pake istilah Do Or Die biar keliatan pinter kan?
Manajemen PSS Sleman tidak berani ambil resiko dan itulah yang membuat PSS Sleman tidak pernah sukses. Di hati suporter PSS Sleman, tim ini adalah tim terbesar di seluruh dunia, tapi kalo mau objektif, PSS Sleman sedang menggali kuburannya sendiri.
Kita telah dibuat lupa dengan bangga sebagai sebuah klub penghasil pemain-pemain yang kemudian dikenal di publik Nusantara. Muhammad Eksan, Seto Nurdiantoro, Anton Hermawan, Maully Lessy, Slamet riyadi, Rudi Widodo, Talahou Abdul Musafri, Slamet Nurcahyo, Busari, atau yang sekarang sedang ngetrend Fachrudin. Siap menyusul beken ada nama Anang Hadi, Andrid, Nanda, hingga “Kaka from Sleman” Candra Luckmana.
Tapi sekedar bangga tidak cukup. Suka atau tidak, sepakbola sudah menjadi sebuah industri. PSS Sleman praktis tidak mendapat apa-apa saat pemain-pemain tenar tadi pindah klub, karena PSS hanya mngikat kontrak per musim. Alasan kontrak per musim? Kompetisi tidak jelas. Sejak awal Liga Indonesia digulirkan, saya rasa format kompetisi tidak pernah jelas. Sudah 17 tahun Liga Indonesia bergulir, format kompetisi tidak pernah jelas. Dan PSS yang sudah berada di Divisi Utama selama 11 tahun Cuma bisa pasrah? Kalo baru 1-2 tahun wajarlah, ini 11 tahun dan (masih) selalu memakai cara yang sama?
Tidak etis memang rasanya jika kita memakai istilah menjual pemain, seolah ini adalah human trafficking. Tapi sebagai tim yang menghasilkan pemain-pemain muda berbakat, PSS seharusnya bisa mereguk keuntungan dari sini.
Kesalahan manajemen berikutnya adalah target. Manajemen PSS (sorry to say) harus saya bilang kualitasnya jauh lebih buruk dibanding tim marketing yang saya pimpin dulu. Tim marketing saya sudah tahu targetnya, kemudian yang mereka lakukan adalah melakukan break down target. Bagaimana dengan manajemen PSS? Tidak pernah punya target jelas, giliran punya target jelas bisa ditebak targetnya ngawur.
Saya kebanyakan ngoceh yes? Tanpa solusi yes? Eek sekali saya ini. Nih saya kasih solusi. Manajemen PSS harus belajar dulu bagaimana melakukan manajemen target. Opo meneh kuwi manajemen target? Eek..
Semua tim pasti punya keinginan untuk jadi juara, betul apa betul? Manajemen PSS silakan buat target jadi juara di tahun 2015 misalnya. Nah selama 2 tahun (karena 2012 tinggal hitungan hari) manajemen harus buat target-target kecil untuk menuju ke arah sana. Misalnya di tahun 2013 mulai memperbaiki kinerja manajemen, perekrutan pelatih dan pemain jangka panjang, memperbaiki keuangan tim. Itu dulu. Itu kebutuhan dasar setiap tim kalo mau jadi juara, menurut saya yang sok tau ini.
Tahun 2014 dan selanjutnya manajemen hanya perlu memperbaki kelemahan atau kesalahan tahun 2013. Targetnya jelas.
Kalo mau ambil contoh Barcelona. Gimana nggak mangkel waktu Real Madrid dengan gagah bisa juara Champions 1998, 2000, 2002? Lihat yang dilakukan Barcelona, mereka memperkuat pemain akademi mereka. Hingga akhirnya kita dipaksa akrab dengan nama Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Carlos Puyol, Cesc Fabregas, hingga yang paling fenomenal Lionel Messi.
Rome wasn’t built in a night kalo kata orang-orang pinter. Semua perlu proses. Dan saya rasa suporter PSS, baik Slemania maupun BCS memiliki kecerdasan tingkat tinggi untuk memahami dan bersabar menanti prosesnya. PSS Sleman bukan Barcelona, tapi kita bisa memakai cara Barcelona yang dengan sabar menanti hasil produksi akademi mereka.
Harapan saya dalam waktu dekat ini masih sama, PSS segera menentukan pelatih. Tetap berharap manajemen berani mengambil resiko.
Apa pekerjaan yang paling membosankan? Menunggu…
Dan saya masih akan tetap menunggu hingga waktunya tiba bagi saya bisa bersorak kembali di tribun mendukung PSS Sleman.
Anehnya, setiap tahun, setiap menjelang kompetisi bergulir tepatnya, saya dipaksa menunggu. Menunggu apa? Menunggu kepastian dari manajemen PSS Sleman. Kepastian apa? Semua hal, pelatih, pembentukan tim, dan target kompetisi.
Saya tidak bisa meratap dengan membenturkan kepala saya ke tembok menghadapi pola pikir manajemen PSS Sleman, yang berisi mayoritas orang-orang yang sudah lama menjadi PNS. Saya tidak berhak menjustifikasi profesi apapun di dunia ini, termasuk PNS, tapi tidak dipungkiri sikap terlalu hati-hati, serba menunggu, tidak berani ambil resiko, dan semua yang berurusan dengan kata lambat lekat dengan profesi PNS.
Saya dengan sok tau mencoba mengupas apa yang menjadi titik lemah manajemen PSS Sleman selama ini.
Sumber masalahnya adalah dana. Dengan dana yang terbatas, atau terlambat datang, membuat PSS selalu dapat pelatih maupun pemain “sisa”. Beruntung pelatih dan pemain yang notabene bukan incaran utama ini selalu bisa menjawab keraguan suporter. “Iki lho aku iso,” seolah mereka ingin menunjukkan bukti.
Di awal 2012 saya sempat mencoba membuka mata manajemen dengan menjual merchandise original PSS Sleman. Sebuah klub tidak akan bisa bertahan mengandalkan sponsor dan uang tiket, itu pikiran saya yang sok tau. Klub butuh pemasukan yang ada atau tiadanya kompetisi/pertandingan uang tetap masuk ke kas klub. Dan jawaban atas hal itu Cuma satu, penjualan merchandise original.
PSS Sleman selalu mengeluarkan anggaran untuk membuat jersey, tetapi manajemen tidak pernah berpikir untuk mengkomersialisasi jersey supaya mereka mendapat pemasukan. Pemikiran saya mungkin mentah di manajemen, mereka masih beranggapan bahwa penjualan merchandise original hanya akan menambah anggaran tanpa pernah berpikir bahwa mereka bisa mendapat keuntungan luar biasa dari penjualan itu.
Saya masih tetap kekeuh dan siap bertarung mempertahankan pemikiran saya bahwa penjualan merchandise original adalah cara terbaik untuk menghidupi klub pada saat jeda kompetisi.
Itu untuk dana, dalam sebulan terakhir kita sedang ngetrend menunggu kepastian siapa pelatih PSS Sleman. Apa boleh buat, manajemen selalu berkilah tidak mau gegabah dan menunggu kepastian format kompetisi dari penyelenggara liga selalu jadi alasan.
Saya akrab dengan dunia marketing, hingga akhirnya berwiraswasta, dan ternyata keberhasilan atau kesuksesan atau apapun Anda menyebutnya, hanya akan menjadi milik orang-orang yang berani mengambil resiko. Saya boleh pake istilah Do Or Die biar keliatan pinter kan?
Manajemen PSS Sleman tidak berani ambil resiko dan itulah yang membuat PSS Sleman tidak pernah sukses. Di hati suporter PSS Sleman, tim ini adalah tim terbesar di seluruh dunia, tapi kalo mau objektif, PSS Sleman sedang menggali kuburannya sendiri.
Kita telah dibuat lupa dengan bangga sebagai sebuah klub penghasil pemain-pemain yang kemudian dikenal di publik Nusantara. Muhammad Eksan, Seto Nurdiantoro, Anton Hermawan, Maully Lessy, Slamet riyadi, Rudi Widodo, Talahou Abdul Musafri, Slamet Nurcahyo, Busari, atau yang sekarang sedang ngetrend Fachrudin. Siap menyusul beken ada nama Anang Hadi, Andrid, Nanda, hingga “Kaka from Sleman” Candra Luckmana.
Tapi sekedar bangga tidak cukup. Suka atau tidak, sepakbola sudah menjadi sebuah industri. PSS Sleman praktis tidak mendapat apa-apa saat pemain-pemain tenar tadi pindah klub, karena PSS hanya mngikat kontrak per musim. Alasan kontrak per musim? Kompetisi tidak jelas. Sejak awal Liga Indonesia digulirkan, saya rasa format kompetisi tidak pernah jelas. Sudah 17 tahun Liga Indonesia bergulir, format kompetisi tidak pernah jelas. Dan PSS yang sudah berada di Divisi Utama selama 11 tahun Cuma bisa pasrah? Kalo baru 1-2 tahun wajarlah, ini 11 tahun dan (masih) selalu memakai cara yang sama?
Tidak etis memang rasanya jika kita memakai istilah menjual pemain, seolah ini adalah human trafficking. Tapi sebagai tim yang menghasilkan pemain-pemain muda berbakat, PSS seharusnya bisa mereguk keuntungan dari sini.
Kesalahan manajemen berikutnya adalah target. Manajemen PSS (sorry to say) harus saya bilang kualitasnya jauh lebih buruk dibanding tim marketing yang saya pimpin dulu. Tim marketing saya sudah tahu targetnya, kemudian yang mereka lakukan adalah melakukan break down target. Bagaimana dengan manajemen PSS? Tidak pernah punya target jelas, giliran punya target jelas bisa ditebak targetnya ngawur.
Saya kebanyakan ngoceh yes? Tanpa solusi yes? Eek sekali saya ini. Nih saya kasih solusi. Manajemen PSS harus belajar dulu bagaimana melakukan manajemen target. Opo meneh kuwi manajemen target? Eek..
Semua tim pasti punya keinginan untuk jadi juara, betul apa betul? Manajemen PSS silakan buat target jadi juara di tahun 2015 misalnya. Nah selama 2 tahun (karena 2012 tinggal hitungan hari) manajemen harus buat target-target kecil untuk menuju ke arah sana. Misalnya di tahun 2013 mulai memperbaiki kinerja manajemen, perekrutan pelatih dan pemain jangka panjang, memperbaiki keuangan tim. Itu dulu. Itu kebutuhan dasar setiap tim kalo mau jadi juara, menurut saya yang sok tau ini.
Tahun 2014 dan selanjutnya manajemen hanya perlu memperbaki kelemahan atau kesalahan tahun 2013. Targetnya jelas.
Kalo mau ambil contoh Barcelona. Gimana nggak mangkel waktu Real Madrid dengan gagah bisa juara Champions 1998, 2000, 2002? Lihat yang dilakukan Barcelona, mereka memperkuat pemain akademi mereka. Hingga akhirnya kita dipaksa akrab dengan nama Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Carlos Puyol, Cesc Fabregas, hingga yang paling fenomenal Lionel Messi.
Rome wasn’t built in a night kalo kata orang-orang pinter. Semua perlu proses. Dan saya rasa suporter PSS, baik Slemania maupun BCS memiliki kecerdasan tingkat tinggi untuk memahami dan bersabar menanti prosesnya. PSS Sleman bukan Barcelona, tapi kita bisa memakai cara Barcelona yang dengan sabar menanti hasil produksi akademi mereka.
Harapan saya dalam waktu dekat ini masih sama, PSS segera menentukan pelatih. Tetap berharap manajemen berani mengambil resiko.
Apa pekerjaan yang paling membosankan? Menunggu…
Dan saya masih akan tetap menunggu hingga waktunya tiba bagi saya bisa bersorak kembali di tribun mendukung PSS Sleman.

0 komentar:
Posting Komentar