• djogzs
    Selamat Datang di Blog gw ^_^

Brigata Curva Sud: Anomali Suporter Sepakbola Indonesia

Jumat, 15 Februari 2013 0 komentar
Baginya, Brigata Curva Sud (BCS) adalah hal yang baru pertama kali ditemui di tengah-tengah citra buruk supporter sepakbola Indonesia. Dengan semangat ala ultras yang dibawanya, BCS mewarnai tribun selatan Stadion Maguwoharjo ketika PSS bertanding.
 
Saya jadi ingin menulis sesuatu tentang BCS. Jika selama ini Sleman identik dengan Slemania, yang pernah menjadi supporter terbaik di Indonesia, maka kemapanan itu mulai diusik dengan keberadaan BCS. Saya tidak tahu persis kronologis berdirinya BCS. Namun saya mencatat BCS mulai menampakkan eksistensinya pada kompetisi Divisi Utama musim 2009/2010. Saya yang selalu menyaksikan pertandingan PSS Sleman dari tribun sebelah timur mengamati sekelompok supporter PSS berbaju hitam yang gemar menyanyikan chants berbahasa asing untuk mendukung PSS Sleman. Kelompok supporter berbaju hitam tersebut awalnya bukanlah kelompok yang besar, hanya terdiri dari beberapa puluh orang. Musim selanjutnya, sepertiga tribun kuning, yang kira-kira berkapasitas total 7.000 orang dipenuhi oleh supporter berbaju hitam. Saat itu saya masih menyebut kelompok tersebut dengan nama Ultras PSS, meskipun sebenarnya nama Brigata Curva Sud sudah mulai eksis. Musim 2011/2012 ini jumlah supporter berbaju hitam yang menyebut dirinya sebagai BCS semakin bertambah banyak. Pada pertandingan kandang terakhir musim 2011/2012 yang lalu, saat PSS melawan PPSM KN Magelang, seluruh tribun kuning dipenuhi oleh pasukan BCS. Semua yang ada di tribun kuning ikut berdiri dan bernyanyi sepanjang 2x 45 menit. Hal ini menghadirkan suasana mistis yang menggetarkan di stadion Maguwoharjo Sleman.
 
Apa yang menjadi cirri khas BCS dalam memberikan dukungan bagi PSS Sleman? Ciri yang paling khas adalah BCS selalu mengenakan kaos berwarna hitam dan memberlakukan wajib bersepatu ketika menyaksikan PSS bertanding. Keringat pemain yang berlari-lari sepanjang 2x 45 menit di lapangan harus diapresiasi dengan sopan. Caranya adalah dengan berpenampilan pantas ketika menyaksikan PSS berlaga. BCS berdiri dan bernyanyi selama 2 x 45 menit tanpa henti. Lagu-lagu (chants) yang dinyanyikan hampir semua adalah lagu baru yang belum pernah dinyanyikan oleh kelompok supporter lain di Indonesia. Ada satu lagu yang dijiplak dari lagu yang dinyanyikan oleh Curva Sud Milano (Suporter AC Milan) dan beberapa lagu berbahasa Inggris. Pada saat babak kedua akan dimulai, BCS akan melakukan koreo. Koreo ini merupakan kombinasi gerakan menggunakan kertas warna-warni dan membentuk pola tertentu. Koreo ini lazim dilakukan oleh supporter-suporter di Italia. Di Indonesia, banyak kelompok supporter melakukan gerakan koreo ini. Yang membedakan dari BCS adalah mereka berani menciptakan bentuk-bentuk yang sulit melalui koreo tersebut. Dan di akhir pertandingan, BCS selalu melakukan pyro show. Hal ini juga sudah banyak dilakukan oleh supporter sepakbola di Indonesia. Hanya saja aksi pyro show yang sedikit unik pernah dilakukan BCS pada musim 2010/2011 yang lalu kala menjamu Persebaya. Saat itu BCS menyalakan kembang api dan berjajar memanjang di sepanjang tribun selatan.
 
Koreo BCS Saat PSS vs PPSM KN (27/5)
 
BCS di dalam memberikan dukungan bagi PSS Sleman berusaha menghindari lagu-lagu yang berbau rasis atau ancaman secara verbal. Jika biasanya supporter sepakbola Indonesia sering mengintimidasi lawannya dengan lagu “dibunuh saja”, BCS tidak pernah menyanyikan lagu dengan kalimat seperti itu. Tidak pernah pula BCS menyanyikan lagu-lagu yang menghina supporter tim lain. Meskipun sempat terlibat perseteruan dengan kelompok supporter lain, BCS tidak pernah merendahkan nama supporter lain ketika memberikan dukungan bagi PSS.
 
BCS adalah anomaly bagi supporter sepakbola Indonesia, yang baru saja tercoreng moreng namanya gara-gara empat nyawa melayang atas nama supporter sepakbola. Meskipun aksinya tergolong garang, namun BCS berusaha menghapuskan image kekerasan dan intimidasi berlebihan ketika mendukung tim kebanggaannya melalui tingkah laku mereka di stadion. Selain dukungan penuh yang diberikan di dalam lapangan, BCS juga terkenal tertib membeli tiket. Bagi mereka, menonton pertandingan dengan membeli tiket dengan harga penuh merupakan salah satu bentuk dukungan bagi tim kesayangannya. Di tengah banyaknya supporter sepakbola yang berusaha mencari gratisan untuk menonton tim kesayangannya bertanding, apa yang dilakukan oleh BCS ini merupakan hal yang patut untuk dicontoh.
 
Saya bukan seorang BCS. Saya bukan juga Slemania yang setia duduk di tribun hijau (tribun yang diperuntukkan bagi Slemania). Saya adalah pendukung PSS Sleman yang dari dulu sampai sekarang selalu ijen (sendirian). Saya tidak pernah bergabung dengan komunitas apapun. Bahkan ketika PSS Sleman bermain di Palangkaraya minggu lalu saya ikut menyusul ke sana sendirian. Namun saya kagum dengan rekan-rekan BCS. Militansi yang mereka tunjukkan membuat saya semakin mencintai PSS. Bukan hanya saya yang kagum. Banyak penonton di tribun merah berlomba-lomba mengabadikan aksi koreo yang menawan dari BCS. Bagi saya BCS adalah setetes air segar bagi persepakbolaan Indonesia. Rasa cinta yang besar bagi tim kesayangannya tidak harus ditunjukkan dengan intimidasi berlebihan bagi tim lawan dan tindak-tindak anarkisme. BCS tidak mengenal koalisi-koalisi-an. Siapapun supporter sepakbola, asal tidak membuat ulah adalah teman. Seandainya militansi tanpa kekerasan ala BCS ini bisa ditularkan ke seluruh Indonesia, saya pikir tidak perlu lagi ada korban selanjutnya yang jatuh hanya gara-gara berbeda kostum.
 
Selama masih satu Indonesia, tidak ada alasan untuk gontok-gontokan.
 
Baca selengkapnya »

Storia un Grande Amore (kisah cinta yang besar)

Kamis, 14 Februari 2013 0 komentar
Tulisan ini saya awali dari salah satu judul lagu tim eropa, Juventus. Adalah menarik bagi saya untuk memotong frase awal lagu mereka, Storia un Grande Amore, kisah cinta yang besar. Tentu saja bukan hanya supporter Juventus yang mengenal rasa cinta pada klub sepakbola. Supporter-supporter lain juga selalu sama, memiliki rasa cinta pada klub sepakbola yang didukungnya.
 
Bicara supporter bagi saya tidak pernah jauh dengan obrolan tentang totalitas. Tentang cerita-cerita perjuangan yang mewarnai pertandingan. Datang ke pertandingan memang menjadi cerita tersendiri bagi setiap ego supporter. Kesadaran untuk membeli tiket menjadikan perjuangan-perjuangan ini memiliki arti. Keringat yang menetes di setiap perjuangan itu yang menuntun kita semua, supporter, ke arah yang sama, stadion. Perjuangan tidak hanya bicara tentang laga kandang. Totalitas sering kali didengungkan (dan lebih sering didengungkan) berkaitan dengan laga tandang, tentang seberapa besar perjuangan, tentang seberapa besar pengorbanan untuk hadir di stadion lawan, untuk mendukung PSS Sleman.
 
Seorang kawan bekerja di luar kota sebelum kompetisi dimulai, menabung hasil pekerjaannya untuk biaya lawatan tandang ke kota-kota lain di Indonesia, untuk mengawal PSS Sleman. Cerita lain lagi, kawan yang sementara tidak berdomisili di Jogjakarta datang ke stadion lawan dengan usahanya sendiri dan bergabung bersama kita di tribun. Sebagian kawan lain mengorbankan ujian di kuliahnya untuk hadir di pertandingan. Kawan lain sibuk berbohong pada orang tuanya bahwa mereka berangkat sekolah hanya untuk memastikan hadir di stadion. Tak jarang pula hubungan dengan lawan jenis kandas karena harus memilih antara pacar dan pertandingan sepakbola. Seorang senior saya harus melawan rasa sakit untuk tetap berada di tribun.
 
Totalitas, perjuangan dan pengorbanan bukan cerita yang dibagi untuk menunjukkan siapa yang terhebat dalam mendukung PSS. Cerita-cerita seputar totalitas bagi saya sendiri adalah cerita-cerita tentang keberanian. Keberanian untuk menekan diri kita sendiri pada batas yang harus kita lampaui. Keberanian untuk memaksa diri kita keluar dari kekhawatiran tidak dapat hadir di pertandingan. Semua cerita tentang totalitas bobotnya seimbang dalam satu benang merah, berbicara hal yang sama: KECINTAAN KITA PADA SUPER ELANG JAWA!
Baca selengkapnya »

Apa pekerjaan yang paling membosankan? Menunggu..!

0 komentar
Sudah sering denger yes sejoli pertanyaan dan jawaban itu? Yup..pekerjaan paling eek di dunia ini adalah menunggu. Pun dengan saya, yang tak betah berlama-lama menunggu. Menunggu apapun.

Anehnya, setiap tahun, setiap menjelang kompetisi bergulir tepatnya, saya dipaksa menunggu. Menunggu apa? Menunggu kepastian dari manajemen PSS Sleman. Kepastian apa? Semua hal, pelatih, pembentukan tim, dan target kompetisi.

Saya tidak bisa meratap dengan membenturkan kepala saya ke tembok menghadapi pola pikir manajemen PSS Sleman, yang berisi mayoritas orang-orang yang sudah lama menjadi PNS. Saya tidak berhak menjustifikasi profesi apapun di dunia ini, termasuk PNS, tapi tidak dipungkiri sikap terlalu hati-hati, serba menunggu, tidak berani ambil resiko, dan semua yang berurusan dengan kata lambat lekat dengan profesi PNS.

Saya dengan sok tau mencoba mengupas apa yang menjadi titik lemah manajemen PSS Sleman selama ini.
Sumber masalahnya adalah dana. Dengan dana yang terbatas, atau terlambat datang, membuat PSS selalu dapat pelatih maupun pemain “sisa”. Beruntung pelatih dan pemain yang notabene bukan incaran utama ini selalu bisa menjawab keraguan suporter. “Iki lho aku iso,” seolah mereka ingin menunjukkan bukti.

Di awal 2012 saya sempat mencoba membuka mata manajemen dengan menjual merchandise original PSS Sleman. Sebuah klub tidak akan bisa bertahan mengandalkan sponsor dan uang tiket, itu pikiran saya yang sok tau. Klub butuh pemasukan yang ada atau tiadanya kompetisi/pertandingan uang tetap masuk ke kas klub. Dan jawaban atas hal itu Cuma satu, penjualan merchandise original.

PSS Sleman selalu mengeluarkan anggaran untuk membuat jersey, tetapi manajemen tidak pernah berpikir untuk mengkomersialisasi jersey supaya mereka mendapat pemasukan. Pemikiran saya mungkin mentah di manajemen, mereka masih beranggapan bahwa penjualan merchandise original hanya akan menambah anggaran tanpa pernah berpikir bahwa mereka bisa mendapat keuntungan luar biasa dari penjualan itu.

Saya masih tetap kekeuh dan siap bertarung mempertahankan pemikiran saya bahwa penjualan merchandise original adalah cara terbaik untuk menghidupi klub pada saat jeda kompetisi.

Itu untuk dana, dalam sebulan terakhir kita sedang ngetrend menunggu kepastian siapa pelatih PSS Sleman. Apa boleh buat, manajemen selalu berkilah tidak mau gegabah dan menunggu kepastian format kompetisi dari penyelenggara liga selalu jadi alasan.

Saya akrab dengan dunia marketing, hingga akhirnya berwiraswasta, dan ternyata keberhasilan atau kesuksesan atau apapun Anda menyebutnya, hanya akan menjadi milik orang-orang yang berani mengambil resiko. Saya boleh pake istilah Do Or Die biar keliatan pinter kan?

Manajemen PSS Sleman tidak berani ambil resiko dan itulah yang membuat PSS Sleman tidak pernah sukses. Di hati suporter PSS Sleman, tim ini adalah tim terbesar di seluruh dunia, tapi kalo mau objektif, PSS Sleman sedang menggali kuburannya sendiri.

Kita telah dibuat lupa dengan bangga sebagai sebuah klub penghasil pemain-pemain yang kemudian dikenal di publik Nusantara. Muhammad Eksan, Seto Nurdiantoro, Anton Hermawan, Maully Lessy, Slamet riyadi, Rudi Widodo, Talahou Abdul Musafri, Slamet Nurcahyo, Busari, atau yang sekarang sedang ngetrend Fachrudin. Siap menyusul beken ada nama Anang Hadi, Andrid, Nanda, hingga “Kaka from Sleman” Candra Luckmana.

Tapi sekedar bangga tidak cukup. Suka atau tidak, sepakbola sudah menjadi sebuah industri. PSS Sleman praktis tidak mendapat apa-apa saat pemain-pemain tenar tadi pindah klub, karena PSS hanya mngikat kontrak per musim. Alasan kontrak per musim? Kompetisi tidak jelas. Sejak awal Liga Indonesia digulirkan, saya rasa format kompetisi tidak pernah jelas. Sudah 17 tahun Liga Indonesia bergulir, format kompetisi tidak pernah jelas. Dan PSS yang sudah berada di Divisi Utama selama 11 tahun Cuma bisa pasrah? Kalo baru 1-2 tahun wajarlah, ini 11 tahun dan (masih) selalu memakai cara yang sama?

Tidak etis memang rasanya jika kita memakai istilah menjual pemain, seolah ini adalah human trafficking. Tapi sebagai tim yang menghasilkan pemain-pemain muda berbakat, PSS seharusnya bisa mereguk keuntungan dari sini.

Kesalahan manajemen berikutnya adalah target. Manajemen PSS (sorry to say) harus saya bilang kualitasnya jauh lebih buruk dibanding tim marketing yang saya pimpin dulu. Tim marketing saya sudah tahu targetnya, kemudian yang mereka lakukan adalah melakukan break down target. Bagaimana dengan manajemen PSS? Tidak pernah punya target jelas, giliran punya target jelas bisa ditebak targetnya ngawur.

Saya kebanyakan ngoceh yes? Tanpa solusi yes? Eek sekali saya ini. Nih saya kasih solusi. Manajemen PSS harus belajar dulu bagaimana melakukan manajemen target. Opo meneh kuwi manajemen target? Eek..

Semua tim pasti punya keinginan untuk jadi juara, betul apa betul? Manajemen PSS silakan buat target jadi juara di tahun 2015 misalnya. Nah selama 2 tahun (karena 2012 tinggal hitungan hari) manajemen harus buat target-target kecil untuk menuju ke arah sana. Misalnya di tahun 2013 mulai memperbaiki kinerja manajemen, perekrutan pelatih dan pemain jangka panjang, memperbaiki keuangan tim. Itu dulu. Itu kebutuhan dasar setiap tim kalo mau jadi juara, menurut saya yang sok tau ini.

Tahun 2014 dan selanjutnya manajemen hanya perlu memperbaki kelemahan atau kesalahan tahun 2013. Targetnya jelas.

Kalo mau ambil contoh Barcelona. Gimana nggak mangkel waktu Real Madrid dengan gagah bisa juara Champions 1998, 2000, 2002? Lihat yang dilakukan Barcelona, mereka memperkuat pemain akademi mereka. Hingga akhirnya kita dipaksa akrab dengan nama Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Carlos Puyol, Cesc Fabregas, hingga yang paling fenomenal Lionel Messi.

Rome wasn’t built in a night kalo kata orang-orang pinter. Semua perlu proses. Dan saya rasa suporter PSS, baik Slemania maupun BCS memiliki kecerdasan tingkat tinggi untuk memahami dan bersabar menanti prosesnya. PSS Sleman bukan Barcelona, tapi kita bisa memakai cara Barcelona yang dengan sabar menanti hasil produksi akademi mereka.

Harapan saya dalam waktu dekat ini masih sama, PSS segera menentukan pelatih. Tetap berharap manajemen berani mengambil resiko.

Apa pekerjaan yang paling membosankan? Menunggu…

Dan saya masih akan tetap menunggu hingga waktunya tiba bagi saya bisa bersorak kembali di tribun mendukung PSS Sleman.
Baca selengkapnya »

PSS SLEMAN (titik dua bintang)

0 komentar
Warna bukanlah masalah. Semangtnya masih sama dan semakon besar ketika merah berubah menjadi hijau pada tahun 90. Ada semangat yang tidak pernah padam. Ada keinginan yang sama setiap hari, setiap waktu, setiap pertandingan. PSS menjadi juara! Menjadi elang jawa dengan cakar paling tajam. Mejadi elang jawa dengan sayap paling lebar. Menjadi elang jawa dengan mata yang mengincar lawannya tanpa ampun. Karena PSS adalah super elang jawa. Saat merah berubah menjadi hijau, semangat ini semakin menggebu, semangat yang semakin besar pada tahun 90.
 
Ya, warna kami kini hijau, kami bangga dengan warna kami saat ini. PSS pasti juara. Itu yang selalu kami harapkan dari PSS. Harapan besar selalu kami sematkan di super elang jawa. Terlihat bodoh memang bagi mereka yang tidak mencintai tim kami. Kami hanyalah orang ndeso, orang gila yang mendukung tim dengan prestasi redup. Pernah kami merasa seperti menjadi tim yang juara ketika kami lolos dari degradasi. Bisa kalian bayangkan bagaimana ketika mata berkaca, hati bergetar, dan teriakan kami semakin lantang.
 
Berada di divisi kelas kedua tidak lalu membuat kami berhenti berteriak. Selalu hadir di pertandingan kandang ataupun tandang itu kewajiban kami. Ketika harus menghadiri pertandingan tandang kami rela lapar, tidak peduli dengan berapa uang saku yang kami miliki. Yang terpenting bagi kami adalah bisa masuk stadion dan mendukung PSS berlaga di kandang lawan. Gembira sekali ketika bermain tandang dapat meraih poin. Hahaha. Yang aneh lagi kalau pertandingan kandang, kami menyebutnya PMS. Suatu sindrom yang meracuni kami ketika pertandingan akan berlangsung. Malam sebelum pertandingan sindrom itu semakin menjadi, mata tidak dapat dipejamkan dan harap esok segera datang.
 
Ada rindu yang selalu terjawab di akhir pekan. Rindu untuk bertemu Super Elang Jawa. Kami punya keinginan yang sama, hadir di stadion secepat mungkin. Memastikan kami tidak terlambat datang. Kami ingin hadir di sana, memastikan pemain keluar dengan wajah kepastian, kemenangan! Jangan mencoba menghentikan kami karena akan percuma. Semangat ini sudah tidak dapat diperkecil lagi. Justru semakin besar di tiap pertandingan yang mengantar Super Elang Jawa menuju kejayaannya. Cinta kami semakin besar, kerinduan kami semakin dalam, semangat ini tak pernah padam!
 
Pernah lho kami akan dukung tim kami tapi kami tidak diijinkan masuk. Alasannya tribun tempat kami beribadah dipakai untuk tim tamu. Mereka pikir kami akan patah. Tidak semudah itu bung. Kami memutuskan untuk tetap bernyanyi di luar stadion. Dengan semangat yang tetap menggebu. Karena memang begitulah cara kami. Memang itu yang bisa kami lakukan. Berteriak mendukung tim yang terpatri di hati kami. PSS oh PSS! Tim medioker yang membuat banyak orang menjadi gila. Haha
 
Kami tidak peduli dengan siapapun yang tidak menyukai kami. Kami punya atmosfer sendiri dibelakang gawang selatan, tempat kami berdiri, tempat kami memutus pita-pita suara dengan nyanyian dan teriakan yang lantang: PSS! Kami tidak peduli dengan siapapun yang tidak menyukai kami. Ada rantai yang erat mengikat kami di sini. Ada jabat tangan dari mereka. Dari para pendahulu yang tidak pernah lelah bermimpi tentang kejayaan. Ada senyum yang tersimpul saat mereka memasuki usia kepala 3 dan melihat kami menyanyi sama kerasnya dengan mereka. Senyum kami tersimpul sama melihat mereka yang meneteskan keringatnya melawan kelelahan hanya untuk bertahan sampai akhir pertandingan: kemenangan!
Baca selengkapnya »

Total Pageviews